Mind map dapat digunakan untuk memudahkan pemetaan pikiran dalam segala bidang. termasuk dalam bidang arsitektur.
Seorang arsitek, adalah seorang ahli di bidang ilmu arsitektur, ahli rancang bangun atau ahli lingkungan binaan.
Istilah arsitek seringkali diartikan secara sempit sebagai seorang perancang bangunan, adalah orang yang terlibat dalam perancang, merancang, dan mengawasi konstruksi bangunan, yang perannya untuk memandu keputusan yang memengaruhi aspek bangunan
tersebut dalam sisi astetika, budaya, atau masalah sosial. Definisi
tersebut kuranglah tepat karena lingkup pekerjaan seorang arsitek sangat
luas, mulai dari lingkup interior ruangan, lingkup bangunan, lingkup kompleks bangunan, sampai dengan lingkup kota dan regional. Karenanya, lebih tepat mendefinisikan arsitek sebagai seorang ahli di bidang ilmu arsitektur, ahli rancang bangun atau lingkungan binaan.
dalam pengerjaan sebuah proyek, seorang arsitek harus mampu merumuskan konsep dengan baik. salah satunya dapat melalui mind map atau pemetaan pikiran.
berikut ini adalah contoh pemetaan pikiran dalam dunia arsitektur:
1. Mind map diatas adalah mind map sederhana yang dibuat untuk memetakan kemungkinan kemungkinan seorang arsitek.
2. Mind map diatas menjelaskan tentang house moving. bagaimana rumah itu dibangun, menghasilkan energi apa saja dari berbagai sisi.
3. Mind map diatas menjelaskan mengenai tahapan suatu proyek. hal ini memudahkan siapa saja dalam memetakan pikiran.
4. Mind map diatas menunjukan bagaimana cara untuk membuat bangunan dengan konsep ramah lingkungan. dengan menggunakan mind map hal ini menjadi sangat menarik dan jelas.
when life gets sweet, say thankyou and celebrate. when life's get bitter, say thankyou and grow!
ars
Kamis, 17 April 2014
Kamis, 10 April 2014
Mind Mapping
Semakin banyaknya buku dan materi yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari, mau tak mau membuat kita harus memaksa diri untuk memahami lebih dalam tentang semua materi tersebut dalam waktu yang singkat. Namun hal ini sungguh sangat melelahkan oleh karena itu ada cara agar kita dapat mengingat materi dalam bentuk teks tersebut dengan cara meringkas.
Salah satu cara meringkas yang paling efektif dengan mengoptimalkan fungsi otak adalah dengan cara mind map. Mind Map pertama kali diperkenalkan oleh Mr. Tony Burzan, tokoh otak dan kecerdasan yang lahir pada tahun 1942, yang telah mengambil gelar sarjana dari University of British Columbia 1964.
Definisi
Mind Map adalah salah satu alat berfikir dan tool belajar dengan mengoptimalkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. dengan menggunakan kedua sisi otak kita maka ingatan kita akan meningkat. Sama halnya dengan kita menggunakan dua kekuatan secara bersamaan, seperti menggunakan turbo pada mesin.
keseimbangan otak kiri dan kanan akan membantu kita untuk dapat meraih goal dengan lebih mudah. karena kebanyakan orang saat ini hanya pandai pada satu sisi otaknya saja. dengan menggunakan metode Mind Mapping ini secara tidak langsung dapat membantu kita untuk menyeimbangkan antara kemampuan otak kiri dan kanan.
Bagaimana bisa?
Mind Map membuat kita mengasah kreatifitas dengan banyak menggunakan komponen warna, gambar dan mempekerjakan otak kita dengan memilih dan menyaring mana headline penting dalam suatu materi. Sehingga secara tidak langsung menyeimbangkan kinerja otak kiri dan kanan.
Manfaat
Menurut Buzan dalam bukunya yang berjudul Super Creativity, manfaat menulis dengan mind map, yaitu membantu kita untuk:
Mind map meningkatkan kreativitas dan aktivitas individu maupun kelompok
Bila siswa terbiasa menggunakan teknik mind map (peta pikiran) ini dalam mencatat informasi pembelajaran yang diterimanya, tentu akan menjadikan mereka lebih aktif dan kreatif. Penggunaan simbol, gambar, pemilihan kata kunci tertentu untuk dilukis atau ditulis pada mind map mereka merangsang pola pikir kreatif.
Mind map memudahkan otak memahami dan menyerap informasi dengan cepat
Catatan yang dibuat dengan teknik mind map dapat dengan mudah dipahami oleh orang lain, apalagi oleh sang pembuatnya sendiri. Mind map membuat siswa harus menentukan hubungan-hubungan apa atau bagaimana yang terdapat antar komponen-komponen mind map tersebut.Hal ini menjadi mereka lebih mudah memahami dan menyerap informasi dengan cepat.
Mind map meningkatkan daya ingat
Catatan khas yang dibuat dengan mind map karena sifatnya spesifik dan bermakna khusus bagi setiap siswa yang membuatnya (karena melibatkan penggunaan dan pembentukan makna atar komponen mind map), akan dapat meningkatkan daya ingat mereka terhadap informasi yang terkandung di dalam mind map itu.
Mind map dapat mengakomodasi berbagai sudut pandang terhadap suatu informasi
Setiap siswa tentu akan mempunyai beragam sudut pandang terhadap suatu informasi yang disampaikan oleh guru atau yang mereka terima dari sumber-sumber belajar lainnya. Beragamnya sudut pandang ini memungkinkan mereka untuk memaknai secara khas informasi tersebut dan dituangkan secara khas pada mind map mereka masing-masing.
Mind map dapat memusatkan perhatian siswa
Selama proses pembuatan mind map perhatian siswa akan terpusat untuk memahami dan memaknai informasi yang diterimanya. Ini akan membuat kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih efektif.
Mencatat dengan teknik mind map menyenangkan
Anak mana yang tak suka pelajaran menggambar sewaktu di sekolah dasar? Bahkan hingga dewasa orang-orang suka menggambar. Teknik menulis menggunakan mind map tentu menyenangkan bagi siswa, sejelek apapun kemampuan mereka menggambar simbol-simbol. Kegiatan yang menyenangkan selanjutnya akan menimbulkan suasana positif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Mind map mengaktifkan seluruh bagian otak
Selama mencatat dengan teknik mind map kedua belahan otak akan dimaksimalkan penggunaannya. Siswa tidak hanya menggunakan belahan otak kiri terkait pemikiran logis, tetapi mereka juga dapat menggunakan belahan otak kanan dengan mencetuskan perasaan dan emosi mereka dalam bentuk warna dan simbol-simbol tertentu selama membuat mind map (peta pikiran)
Cara Membuat Mind Map
Cara Mengorganisasikan Materi pembelajaran Ke Dalam Mind Map
pustaka: - fortunewell.com The Power of Mind Mapping
- tony_buzan-The_Super_Creativity_the_mind_map_method(bookfi.org).pdf
Salah satu cara meringkas yang paling efektif dengan mengoptimalkan fungsi otak adalah dengan cara mind map. Mind Map pertama kali diperkenalkan oleh Mr. Tony Burzan, tokoh otak dan kecerdasan yang lahir pada tahun 1942, yang telah mengambil gelar sarjana dari University of British Columbia 1964.
Definisi
Mind Map adalah salah satu alat berfikir dan tool belajar dengan mengoptimalkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. dengan menggunakan kedua sisi otak kita maka ingatan kita akan meningkat. Sama halnya dengan kita menggunakan dua kekuatan secara bersamaan, seperti menggunakan turbo pada mesin.
keseimbangan otak kiri dan kanan akan membantu kita untuk dapat meraih goal dengan lebih mudah. karena kebanyakan orang saat ini hanya pandai pada satu sisi otaknya saja. dengan menggunakan metode Mind Mapping ini secara tidak langsung dapat membantu kita untuk menyeimbangkan antara kemampuan otak kiri dan kanan.
Bagaimana bisa?
Otak mengatur semua fungsi tubuh; otak mengendalikan perilaku kita yang paling primitif-makan, tidur, menjaga agar tubuh tetap hangat; otak bertanggung jawab untuk kegiatan yang paling canggih-penciptaan peradaban, musik, seni, ilmu dan bahasa. Harapan, pikiran, emosi dan kepribadian semuanya tersimpan-disuatu tempat-di dalam sana. Setelah ribuan ilmuwan mengkajinya selama berabad-abad, satu-satunya kata untuk menggambarkannya adalah: MENAKJUBKAN.( The Ultimate Book of Mind Map - Tony Buzan)
Mind Map membuat kita mengasah kreatifitas dengan banyak menggunakan komponen warna, gambar dan mempekerjakan otak kita dengan memilih dan menyaring mana headline penting dalam suatu materi. Sehingga secara tidak langsung menyeimbangkan kinerja otak kiri dan kanan.
Manfaat
Menurut Buzan dalam bukunya yang berjudul Super Creativity, manfaat menulis dengan mind map, yaitu membantu kita untuk:
- merencana
- berkomunikasi
- menjadi lebih kreatif
- menghemat waktu
- menyelesaikan masalah
- memusatkan perhatian
- menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran
- mengingat dengan lebih baik
- belajar dengan lebih cepat dan efisien
- melihat “gambar keseluruhan”
- hemat kertas
Mind map meningkatkan kreativitas dan aktivitas individu maupun kelompok
Bila siswa terbiasa menggunakan teknik mind map (peta pikiran) ini dalam mencatat informasi pembelajaran yang diterimanya, tentu akan menjadikan mereka lebih aktif dan kreatif. Penggunaan simbol, gambar, pemilihan kata kunci tertentu untuk dilukis atau ditulis pada mind map mereka merangsang pola pikir kreatif.
Mind map memudahkan otak memahami dan menyerap informasi dengan cepat
Catatan yang dibuat dengan teknik mind map dapat dengan mudah dipahami oleh orang lain, apalagi oleh sang pembuatnya sendiri. Mind map membuat siswa harus menentukan hubungan-hubungan apa atau bagaimana yang terdapat antar komponen-komponen mind map tersebut.Hal ini menjadi mereka lebih mudah memahami dan menyerap informasi dengan cepat.
Mind map meningkatkan daya ingat
Catatan khas yang dibuat dengan mind map karena sifatnya spesifik dan bermakna khusus bagi setiap siswa yang membuatnya (karena melibatkan penggunaan dan pembentukan makna atar komponen mind map), akan dapat meningkatkan daya ingat mereka terhadap informasi yang terkandung di dalam mind map itu.
Mind map dapat mengakomodasi berbagai sudut pandang terhadap suatu informasi
Setiap siswa tentu akan mempunyai beragam sudut pandang terhadap suatu informasi yang disampaikan oleh guru atau yang mereka terima dari sumber-sumber belajar lainnya. Beragamnya sudut pandang ini memungkinkan mereka untuk memaknai secara khas informasi tersebut dan dituangkan secara khas pada mind map mereka masing-masing.
Mind map dapat memusatkan perhatian siswa
Selama proses pembuatan mind map perhatian siswa akan terpusat untuk memahami dan memaknai informasi yang diterimanya. Ini akan membuat kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih efektif.
Mencatat dengan teknik mind map menyenangkan
Anak mana yang tak suka pelajaran menggambar sewaktu di sekolah dasar? Bahkan hingga dewasa orang-orang suka menggambar. Teknik menulis menggunakan mind map tentu menyenangkan bagi siswa, sejelek apapun kemampuan mereka menggambar simbol-simbol. Kegiatan yang menyenangkan selanjutnya akan menimbulkan suasana positif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Mind map mengaktifkan seluruh bagian otak
Selama mencatat dengan teknik mind map kedua belahan otak akan dimaksimalkan penggunaannya. Siswa tidak hanya menggunakan belahan otak kiri terkait pemikiran logis, tetapi mereka juga dapat menggunakan belahan otak kanan dengan mencetuskan perasaan dan emosi mereka dalam bentuk warna dan simbol-simbol tertentu selama membuat mind map (peta pikiran)
Cara Membuat Mind Map
Cara Mengorganisasikan Materi pembelajaran Ke Dalam Mind Map
- Gunakan kertas kosong
- Buat gambar tentang GAGASAN UTAMA di tengah kertas
- Pakai beragam warna berbeda untuk setiap cabang utama yang langsung terhubung ke GAGASAN UTAMA
- Buat cabang-cabang tingkat kedua dari cabang utama
- Buat cabang-cabang tingkat ketiga dari cabang kedua, dst
- Gambar garis cabang sebagai garis melengkung (bukan garis lurus)
- Tiap baris letakkan satu kata kunci
- Gunakan gambar berupa simbol-simbol yang menarik di setiap bagian yang mungkin
pustaka: - fortunewell.com The Power of Mind Mapping
- tony_buzan-The_Super_Creativity_the_mind_map_method(bookfi.org).pdf
Kamis, 03 April 2014
Arsitektur dan Saya
Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang arsitek. sama sekali tidak. Yang ada dalam pikiran saya ketika saya duduk dibangku taman kanak-kanak adalah bagaimana caranya saya kelak menjadi seorang dokter hewan spesialis babi. sebuah impian kecil yang harus saya sadari tidak akan pernah terwujud.
ketika saya duduk di bangku SD, SMP, hingga SMA cita-cita saya pun masih di seputar dunia kedokteran. namun, ketika saya berada di kelas 2 SMA cita-cita saya menjadi seorang dokter pupus, karena ternyata saya mengalami hemophobia (phobia darah). sejak saat itu saya menyadari bahwa seorang adinda tidak akan pernah menjadi dokter, karena untuk mengalahkan rasa takut saya saja tidak mampu.
Saat itu saya merasa down, merasa kecewa pada diri saya sendiri, saya bingung, akan menjadi apa saya nanti? Saat itu, ibu saya memberi saya dua pilihan 'bekerja dibidang kesehatan atau teknik' dan saya memutuskan untuk memilih teknik. Dan entah angin darimana saya tiba-tiba memilih untuk melanjutkan studi di bidang teknik arsitektur.
Pengetahuan saya dibidang arsitektur saat itu sungguh sangat minim. saya memang senang menggambar, tapi saya tidak pernah tahu bagaimana menggambar teknik itu. Saya memang senang akan keindahan, tapi saya tidak tahu bahwa keindahan itu bersifat subyektif.
Memasuki dunia arsitektur membuat saya merubah banyak hal, termasuk merubah mindset saya. mulai dari cara berpikir, cara memandang sesuatu, hingga kesehatan pun semua berubah. ya, berubah menjadi lebih baik dan juga buruk. hehe
dulu semasa SMA, saya berpikir bahwa dunia arsitektur adalah perpaduan antara seni dan sains. namun kini saya menyadari bahwa arsitektur adalah ilmu yang complicated yaitu seni (nilai estetika) + ilmu sains (fisika) + ilmu sosial (geografi, sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, manajemen, dan ekonomi).
Bersekolah dibidang arsitektur telah banyak merubah hidup saya, dulu kegiatan sehari-hari saya di kelas lebih banyak berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun kini saya lebih sering duduk manis mengerjakan setumpuk revisi.
Yang jelas, berada di dunia ini, dunia arsitektur telah membuat saya melihat dunia dari sisi yang lain. melihat bahwa rumah tradisional indonesia adalah rumah dengan teknologi tinggi yang memperhitungkan keselamatan penghuninya, melihat bahwa setiap langkah yang saya lewati di dalam kelas telah diperhitungkan oleh sang ahli, melihat bahwa apa yang menurut kita bagus belum tentu dinilai bagus oleh seseorang.
Dan berada di dunia Arsitektur telah merubah saya dari pribadi yang emosional dan egois, menjadi pribadi yang sedikit lebih sabar dan mau mendengarkan orang lain.
Dear God, Thankyou very much for all that you give to me. I know that everything happens for a reason, and now I know what the reason was..
ketika saya duduk di bangku SD, SMP, hingga SMA cita-cita saya pun masih di seputar dunia kedokteran. namun, ketika saya berada di kelas 2 SMA cita-cita saya menjadi seorang dokter pupus, karena ternyata saya mengalami hemophobia (phobia darah). sejak saat itu saya menyadari bahwa seorang adinda tidak akan pernah menjadi dokter, karena untuk mengalahkan rasa takut saya saja tidak mampu.
Saat itu saya merasa down, merasa kecewa pada diri saya sendiri, saya bingung, akan menjadi apa saya nanti? Saat itu, ibu saya memberi saya dua pilihan 'bekerja dibidang kesehatan atau teknik' dan saya memutuskan untuk memilih teknik. Dan entah angin darimana saya tiba-tiba memilih untuk melanjutkan studi di bidang teknik arsitektur.
Pengetahuan saya dibidang arsitektur saat itu sungguh sangat minim. saya memang senang menggambar, tapi saya tidak pernah tahu bagaimana menggambar teknik itu. Saya memang senang akan keindahan, tapi saya tidak tahu bahwa keindahan itu bersifat subyektif.
Memasuki dunia arsitektur membuat saya merubah banyak hal, termasuk merubah mindset saya. mulai dari cara berpikir, cara memandang sesuatu, hingga kesehatan pun semua berubah. ya, berubah menjadi lebih baik dan juga buruk. hehe
dulu semasa SMA, saya berpikir bahwa dunia arsitektur adalah perpaduan antara seni dan sains. namun kini saya menyadari bahwa arsitektur adalah ilmu yang complicated yaitu seni (nilai estetika) + ilmu sains (fisika) + ilmu sosial (geografi, sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, manajemen, dan ekonomi).
Bersekolah dibidang arsitektur telah banyak merubah hidup saya, dulu kegiatan sehari-hari saya di kelas lebih banyak berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun kini saya lebih sering duduk manis mengerjakan setumpuk revisi.
Yang jelas, berada di dunia ini, dunia arsitektur telah membuat saya melihat dunia dari sisi yang lain. melihat bahwa rumah tradisional indonesia adalah rumah dengan teknologi tinggi yang memperhitungkan keselamatan penghuninya, melihat bahwa setiap langkah yang saya lewati di dalam kelas telah diperhitungkan oleh sang ahli, melihat bahwa apa yang menurut kita bagus belum tentu dinilai bagus oleh seseorang.
Dan berada di dunia Arsitektur telah merubah saya dari pribadi yang emosional dan egois, menjadi pribadi yang sedikit lebih sabar dan mau mendengarkan orang lain.
Dear God, Thankyou very much for all that you give to me. I know that everything happens for a reason, and now I know what the reason was..
sincerely me, Adinda
Rabu, 26 Maret 2014
Sejarah Arsitektur Indonesia
Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan
bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan
yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain
dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan
beberapa penyesuaian membangun oleh beberapa generasi ke generasi.
Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan
teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda
ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern
lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan
hasil yang beragam.
Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani.
Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.
Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.
Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya.
Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani.
Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.
Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.
Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya.
Pengaruh Islam dalam Arsitektur
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di
Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah
abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang
ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan
politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran
budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di
masjid-masjid, istana, dan bangunan makam.
Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai
bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut
meninggalkan kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi
monumental sampai abad keempat belas. Meskipun demikian, tidak berarti
bahwa “Zaman Klasik” di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman “biadab”
dan juga bukanlah awal dari “Abad Kegelapan”. Selanjutnya
kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka
adopsi secara jenius. “New Era” selanjutnya menghasilkan ikon penting
seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad keenam
belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan
Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa
Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan
ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para
sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah
yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang
benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).
Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad
ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh
arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih
bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak
mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan
melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang
diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam
Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini.
Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan
Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru
dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula,
masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni
terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan tempat
lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap
tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru
mempunyai makna simbolis.
Gaya Belanda dan Hindia Belanda
Pengaruh Barat di mulai jauh sebelum tahun 1509 ketika Marco Polo
dari Venesia melintasi Nusantara di 1292 untuk kegiatan perdagangan.
Sejak itu orang-orang Eropa berusaha untuk merebut kendali atas
perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan. Portugis dan
Spanyol, dan kemudian Belanda, memperkenalkan arsitektur mereka sendiri
dengan cara awal tetap menggunakan berbagai elemen arsitektur Eropa,
namun kemudian dapat beradaptasi dengan tradisi arsitektur lokal. Namun
proses ini bukanlah sekadar satu arah: Belanda kemudian mengadopsi
unsur-unsur arsitektur pribumi untuk menciptakan bentuk yang unik yang
dikenal sebagai arsitektur kolonial Hindia Belanda. Belanda juga sadar
dengan mengadopsi arsitektur dan budaya setempat kedalam arsitektur
tropis baru mereka dengan menerapkan bentuk-bentuk tradisional ke dalam
cara-cara modern termasuk bahan bangunan dan teknik konstruksi.
Bangunan kolonial di Indonesia, terutama periode Belanda yang
sangat panjang 1602 – 1945 ini sangat menarik untuk menjelajahi
bagaimana silang budaya antara barat dan timur dalam bentuk bangunan,
dan juga bagaimana Belanda mengembangkan aklimatisasi bangunan di
daerah tropis. Menurut Sumalyo (1993), arsitektur kolonial Belanda di
Indonesia adalah fenomena budaya unik yang pernah ditemukan di tempat
lain maupun di tanah air mereka sendiri. Bangunan-bangunan tesebut
adalah hasil dari budaya campuran kolonial dan budaya di Indonesia.
Perbedaan konsep Barat dan Indonesia ke dalam arsitektur adalah
terletak pada korelasi antara bangunan dan manusianya. Arsitektur Barat
adalah suatu totalitas konstruksi, sementara itu di Timur lebih
bersifat subjektif, yang lebih memilih penampilan luar terutama façade
depan. Kondisi alam antara sub-tropis Belanda dan tropis basah
Indonesia juga merupakan pertimbangan utama bangunan Belanda di
Indonesia.
Sebenarnya, Belanda tidak langsung menemukan bentuk yang tepat
untuk bangunan mereka di awal perkembangannya di Indonesia. Selama awal
kolonisasi Eropa awal abad 18, jenis bangunan empat musim secara
langsung dicangkokkan Belanda ke iklim tropis Indonesia. Fasade datar
tanpa beranda, jendela besar, atap dengan ventilasi kecil yang biasa
terlihat di bagian tertua kota bertembok Belanda, juga digunakan
seperti di Batavia lama (Widodo, J. dan YC. Wong 2002).
Menurut Sumintardja, (1978) VOC telah memilih Pulau Jawa sebagai
pusat kegiatan perdagangan mereka dan bangunan pertama dibangun di
Batavia sebagai benteng Batavia. Di dalam benteng, dibangun rumah untuk
koloni, memiliki bentuk yang sederhana seperti rumah asli di awal tapi
belakangan diganti dengan rumah gaya Barat (untuk kepentingan
politis). Dinding batu bata rumah, mereka mengimpor bahan langsung dari
Belanda dan juga dengan atap genteng dan interior furniture.
Rumah-rumah yang menjadi tradisi pertama rumah-rumah tanpa halaman,
dengan bentukan memanjang seperti di Belanda sendiri. Rumah-rumah ini
ada dua lantai, sempit di façade tapi lebar dalam. Rumah tipe ini
selanjutnya banyak digunakan oleh orang-orang cina setelah orang
Belanda beralih dengan rumah-rumah besar dengan halaman luas.
Rumah-rumah ini disebut sebagai bentuk landhuizen atau rumah tanpa
beranda dalam periode awal, setelah mendapat aklimatisasi dengan iklim
setempat, rumah-rumah ini dilengkapi dengan beranda depan yang besar
seperti di aula pendapa pada bangunan vernakular Jawa.
Pada awalnya, rumah-rumah ini dibangun dengan dua lantai, setelah
mengalami gempa dan juga untuk tujuan efisiensi, kemudian rumah-rumah
ini dibangun hanya dalam satu lantai saja. Tetapi setelah harga tanah
menjadi meningkat, rumah-rumah itu kembali dibangun dengan dua lantai
lagi.
Penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal dan ditingkatkan
setelah pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan
Umum (BOW) pada 1814-1930. Sekitar tahun 1920-an 1930-an, perdebatan
tentang masalah identitas Indonesia dan karakter tropis sangat
intensif, tidak hanya di kalangan akademis tetapi juga dalam praktek.
Beberapa arsitek Belanda, seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas
Nix, CP Wolf Schoemaker, dan banyak lainnya, terlibat dalam wacana
sangat produktif baik dalam akademik dan praksis. Bagian yang paling
menarik dalam perkembangan Arsitektur modern di Indonesia adalah
periode sekitar 1930-an, ketika beberapa arsitek Belanda dan akademisi
mengembangkan sebuah wacana baru yang dikenal sebagai
“Indisch-Tropisch” yaitu gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia
yang dipengaruhi Belanda
Tipologi dari arsitektur kolonial Belanda; hampir bangunan besar
luar koridor yang memiliki fungsi ganda sebagai ruang perantara dan
penyangga dari sinar matahari langsung dan lebih besar atap dengan
kemiringan yang lebih tinggi dan kadang-kadang dibangun oleh dua lapis
dengan ruang yang digunakan untuk ventilasi panas udara.
Arsitek-arsitek Belanda mempunyai pendekatan yang baik berkaitan
dengan alam di mana bangunan ditempatkan. Kesadaran mereka dapat
dilihat dari unsur konstruksi orang yang sangat sadar dengan alam.
Dalam Sumalyo (1993,): Karsten pada tahun 1936 dilaporkan dalam
artikel: “Semarangse kantoorgebouwen” atau Dua Office Building di
Semarang Jawa Tengah:
1. Pada semua lantai pertama dan kedua, ditempatkan pintu,
jendela, dan ventilasi yang lebar diantara dia rentang dua kolom.
Ruangan untuk tiap lantai sangat tinggi; 5, 25 m di lantai pertama dan 5
m untuk lantai dua. Ruangan yang lebih tinggi, jendela dan ventilasi
menjadi sistem yang baik untuk memungkinkan sirkulasi udara di atap,
ada lubang ventilasi di dinding atas (di atas jendela)
2. Disamping lebar ruang yang lebih tinggi, koridor terbuka di
sisi Barat dan Timur meliputi ruang utama dari sinar matahari langsung.
Ketika awal urbanisasi terjadi di Batavia (Jakarta), ada begitu
banyak orang membangun vila mewah di sekitar kota. Gaya arsitekturnya
yang klasik tapi beradaptasi dengan alam ditandai dengan banyak
ventilasi, jendela dan koridor terbuka banyak dipakai sebagai pelindung
dari sinar matahari langsung. Di Bandung, Villa Isolla adalah salah
satu contoh arsitektur yang baik ini (oleh Schoemaker1933)
Arsitektur Kontemporer Indonesia
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bangunan modern mengambil
alih Indonesia. Kondisi ini berlanjut ke tahun 1970-an dan 1980-an
ketika pertumbuhan eknomi yang cepat Indonesia yang mengarah pada
program-program pembangunan besar-besaran di setiap sector mulai dari
skema rumah murah, pabrik-pabrik, bandara, pusat perbelanjaan dan
gedung pencakar langit. Banyak proyek bergengsi yang dirancang oleh
arsitek asing yang jarang diterapkan diri mereka untuk merancang secara
khusus untuk konteks Indonesia. Seperti halnya kota-kota besar di
dunia, terutama di Asia, sebagai korban dari globalisasi terlepas dari
sejarah lokal, iklim dan orientasi budaya.
Arsitektur modern Indonesia umumnya mulai di sekitar tahun 50an
dengan dominasi bentuk atap. Model bangunan era kolonial juga diperluas
dengan teknik dan peralatan baru seperti konstruksi beton, AC, dan
perangkat lift. Namun, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, kondisi
ekonomi di Indonesia belum cukup kuat. Sebagai akibat, bangunan yang
kurang berkualitas terpaksa lahir. Semua itu sebagai upaya untuk
menemukan arsitektur Indonesia modern, seperti halnya penggunaan bentuk
atap joglo untuk bangunan modern.
Arsitektur perumahan berkembang luas pada tahun 1980-an ketika
industri perumahan booming. Rumah pribadi dengan arsitektur yang unik
banyak lahir tapi tidak dengan perumahan massal. Istilah rumah rakyat,
rumah berkembang, prototipe rumah, rumah murah, rumah sederhana, dan
rumah utama dikenal baik bagi masyarakat. Jenis ini dibangun dengan ide
ruang minimal, rasional konstruksi dan non konvensional (Sumintardja,
1978)
Permasalahan untuk Arsitektur Indonesia
Gerakan-gerakan baru dalam arsitektur seperti Modernisme,
Dekonstruksi, Postmodern, dll tampaknya juga diikuti di Indonesia
terutama di Jawa. Namun, dalam kenyataannya, mereka menyerap dalam
bentuk luar saja, bukan ide-ide dan proses berpikir itu sendiri. Jangan
heran jika kemudian muncul pandangan yang dangkal; “Kotak-kotak adalah
Modern, Kotak berjenjang adalah pasca Modern” (Atmadi, 1997).
Arsitektur hanya hanya dilihat sebagai objek bukan sebagai lingkungan
hidup.
Sumalyo, (1993) menyatakan bahwa pandangan umum arsitektur Barat:
‘Purism’, di mana untuk menunjuk Bentuk dan Fungsi, adalah berlawanan
dengan konsep-konsep tradisi yang memiliki konteks dengan alam.
Kartadiwirya, dalam Budihardjo (1989,) berpendapat, mengapa prinsip
tropis ‘nusantara’ arsitektur jarang dipraktekkan di Indonesia adalah
karena pemikiran dari proses perencanaan tidak pernah menjadi
pemikiran. Mereka hanya hanya mengajarkan tentang perencanaan
konvensional selama 35 tahun tanpa perubahan berarti sampai beberapa
hari. Sayangnya hamper semua bahan pengajaran dalam arsitektur berasal
dari cara berpikir Barat yang menurut Frick (1997) telah menghasilkan
kelemahan arsitektur Indonesia. Dia juga menjelaskan bahwa Bahan
menggunakan bangunan modern hanya karena alasan produksi massal yang
lebih ‘Barat’ dan jauh dari tradisi setempat. Kondisi ini telah memicu
penggunaan bahan yang tidak biasa dan tanpa kondisi lokal.
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)

